About UGM
Academic Portal
IT Center
Library
Research
Webmail
Bahasa Indonesia
English

Seminar Nasional “Perkembanan Kontemporer Pergolakan Timur Tengah”

Posted in Yogyakarta
04
Nov
2016

Yogyakarta, Program Studi Agama dan Lintas Budaya minat Kajian Timur Tengah Sekolah Pascasarjana UGM kembali menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Perkembanan Kontemporer Pergolakan Timur Tengah” pada Kamis (3/10). Seminar yang diikuti oleh sekitar seratus lima puluh orang ini dihadiri oleh tiga narasumber yaitu Salman Al-Farizi, SE, Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab periode 2012-2015. Narasumber berikutnya, Drs. Trias Kuncahyono, wartawan Senior Kompas, serta Dr. Siti Mutiah Setiawai, M.A, Sekretaris Minat Studi Kajian Timur Tengah.

Dalam paparannya, Salman Al-Farizi menyampaikan, Indonesia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Timur Tengah, selain itu, banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di Timur Tengah. Wilayah itu  juga merupakan salah satu kawasan yang menjadi tujuan pengembangan dan peningkatan kerjasama oleh pemerintah Indonesia. Sehingga, berbagai peristiwa yang terjadi di Timur Tengah akan banyak menarik perhatian masyarakat indonesia.

Lebih lanjut Salman menyampaikan, akar permasalahan di Timur Tengah adalah konflik Palestina-Israel, pertentangan sektarian, krisis ekonomi, pengangguran, serta tuntutan reformasi dan demokratisasi. Salman juga menilai ada tiga garis besar peta konflik di Timur Tengah saat ini, yaitu pertentangan Salafi Syiah dan Salafi Ikhwanul Muslimin, Rivalitas AS-Rusia dan Konflik Palestina Israel.

Sementara itu Drs. Trias Kuncahyono, menyampaikan paparannya mengenai  isu-isu kontemporer yang terjadi di Turki. Bayak hal yang disoroti dalam paparannya antara lain perkembangan yang terjadi di Turki baik Internal maupun eksternal, tentang pengungsi,  persoalan kudeta, dan intervensi fihak asing.

Senada dengan Trias, Dr. Siti Mutiah Setiawati menyampaikan, bahwa  hampir di seluruh konflik di Timur Tengah mengundang intervensi asing. Intervensi asing seringkali justru memperkeruh kondisi dan menghambat mekanisme penyelesaian masalah. Namun demikian, dalam batas tertentu, intervensi asing  dapat mencegah konflik berkelanjutan yaitu dengan mendorong perundingan- perundingan. (arni/sps)