Tentang UGM
Portal Akademika
IT Center
Perpustakaan
Penelitian
Webmail
Bahasa Indonesia
English

Dramatari Gambuh dan Pengaruh Pada Dramatari Opera Arja

Dipromosikan oleh Suasthi Widjaja, SST., M.Hum

Pada Jumat, 25 Januari 2008, pukul 09:00 WIB, Yogyakarta

Gambuh adalah sebuah dramatari warisan budaya Bali, yang memperoleh pengaruh dan dramatari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan nama rakêt lalaokaran. Dramatari klasik yang lahir di puri pada masa lampau, masih dilestarikan di berbagai daerah di Bali, yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan. Rak - ét telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dan baru disebutkan lagi dalam kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Raké't lalaokaran yang juga disebut gambuh ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan antara rakét dengan gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang merupakan kelanjutan dan bhata mapdtra yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur rakyat Majapahit yang melaksanakan upacara shreiddha.

Penelitian yang mengkaji asal-usul gambuh serta pengaruhnya pada dramatari arja ini, merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan etnokoreologi, yaitu sistem analisis tan yang memadukan penelitian tekstual dengan penelitian kontekstual. Kedua dramatari ini memiliki aspek-aspek yang multilapis, sehingga dalam kajiannya akan melibatkan pula metode, teori maupun konsep-konsep disiplin lainnya. Penelitian untuk disertasi ini juga menyajikan pembahasan tekstual secara lebih rinci, yaitu dengan melakukan. perbandingan antara gambuh dengan arja dilihat dari unsur-unsur yang membangun kedua dramatari tersebut. Studi banding ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak persamaan yang dimiliki, serta seberapa jauh perbedaan yang ditunjukkan oleh kedua dramatari tersebut.

Terwujudnya gambuh sebagai dramatari istana yang adiluhung telah memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan seni pertunjukan di Bali. Gambuh yang terbentuk di Bali tidak hanya memperkenalkan cerita sebagai lakon yang memunculkan adanya struktur dramatik yang lengkap, akan tetapi memperkenalkan pula koreografi tan yang rumit dan penampilan yang artistik, untuk hiburari raja dan para bangsawan kerajaan. Bentuk pertunjukan gambuh memiliki standar kualitas tan tertentu yang mencirikan gambuh, yaitu .memiliki struktur 'pertunjukan dan koreografi serta iringan musik yang pasti, perbendaharaan gerak yang lengkap dengan aturan-aturan yang ketat, yang tidak dimiliki oleh tan Bali sebelumnya. Begitu pula dengan kostum yang digunakan sangat megah, berbeda dengan kostum yang digunakan oleh tari-tarian sebelumnya yang sangat sederhana. Itulah yang menyebabkan gambuh dikatakan sebagai sumber tan dan dramatari yang muncul kemudian di Bali.

Salah satu dramatari yang mendapat pengaruh dan gambuh adalah dramatari opera arja. Arja adalah dramatari opera yang menggunakan tembang dan dialog sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan. Dilihat dari bentuk pertunjukan arja yang sekarang dengan bentuk pertunjukan pada mulanya ketika masih disebut dadap, tampak perbedaan yang sangat mencolok. Hal ini menunjukkan terbentuknya dramatari opera arja seperti sekarang ini telah melalui suatu proses transformasi dalam rentangan waktu yang sangat lama. Dramatari arja yang muncul di kalangan masyarakat jelata sebagai sebuah pertunjukan yang sederhana pada mulanya, telah berubah secara bertahap menjadi bentuk seni pertunjukan yang memiliki unsur-unsur pokok gambuh dalam bentuk yang lebih menarik.

Gambuh yang muncul sebagai dramatari istana telah berkembang sesuai dengan kehidupan masyarakat Bali yang religius. Ditemukannya lontar Dharma Pagambuhan dalam penelitian ini, menunjukkan hubungan yang erat antara seni pertunjukan dengan kehidupan ritual keagamaannya. Lontar Dharma Pagambuhan merupakan lontar tuntunan spiritual untuk dramatari gambuh, yang berisi petunjuk berupa mantra-mantra yang harus diketahui oleh penari maupun penabuh gambuh. Lontar ini juga memuat jenis-jenis sesajen yang harus dipersembahkan ketika melakukan pementasan gambuh. Digunakannya jenis-jenis sesajen yang dimuat dalam Dharma Pagambuhan oleh genre seni pertunjukan lainnya di Bali merupakan petunjuk pula, bahwa gambuh adalah sumber tan dan dramatari Bali yang tercipta kemudian.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa gambuh memang berasal dan zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang telah mengalami perubahan dan perkembangan di Bali. Kehadiran gambuh tepat pada saat Bali sedang mengalami kebangkitan kembali dalam bidang seni, yaitu pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550). Gambuh yang memiliki elemen­ elemen dramatari yang sangat lengkap, telah menjadikannya sumber, yang kemudian mempenganahi bentuk-bentuk seni pertunjukan yang lahir kemudian. Arja merupakan transformasi gambuh ke dalam bentuk pertunjukan yang merrliliki nuansa bare serta karakter yang berbeda dengan sumbernya. Arja memiliki unsur-unsur pokok gambuh dalam bentuk yang lebih menarik, dalam anti sesuai dengan jiwa zamannya. Semua itu berkat peran para penari gambuh yang terlibat dalam pembentukannya, termasuk peran istana yang telah membangun arja sebagai arja due purl (arja milik istana), yang juga turut memberikan pengaruh dan dampak yang menguntungkan dalam dunia seni pertunjukan di Bali.